Dikala Gondrong Tiba

Gondrong adalah sebutan untuk seorang laki-laki berambut panjang, Itulah kenapa cewek tidak disebut Gondrong, karena mereka bukan laki laki dan laki laki bukan mereka, tapi mereka dan laki laki ditakdirkan untuk menyatu sehingga mampu menciptakan Gondrong junior, Coretan Payah edisi "Dikala Gondrong Tiba", akan mengulas sepenggal cerita dari sepanggul kisah yang terjadi selama Gondrong itu tiba.

Alasan Pecinta Alam ?

Tariklah nafas dari udara bersih itu. Kemudian biarkan sepatu tua keluar dari rak-nya. Kain segi tiga itu biarkan ada. Rutinitas akan kalah, kalahlah dengan jiwa. Nyaman akan jauh, dipecahkan dan terpelanting. Tentu ada kisah, dari perjalanan jauh melelahkan.

#SaveCawang | Sudah Dengar Tangisan Cawang hari ini ?

Payah, tangisan Cawang tak terdengar, jelas tangisan itu rintih. betul aku adalah orang yang payah, bagaimana tidak, seorang mahasisw...

Siul fales mengiringi pagi yang hampir saja terlewatkan, hari ini hampir saja habis di zona nyaman, dikasur yang tak terjemur entah berapa bulan. Kopi panas kuperintahkan untuk dibuat padahal hanya ada aku dan kucing waktu itu, astaga, kucing itu belum terlatih untuk segelas kopi, segelas kopi yang di dedikasikan untuk modal berpikir dan berandai-andai.

Saturday, 2 July 2016

Latar Belakang Reunian

Kelas baru sudah dibagi, Alhamdulilah tahun ini naik kelas. Seragam tak lagi nampak bagus, yang awalnya kebesaran sekarang sudah ngepas betul untuk tampil dengan baju keluar. Kelas Akhir dengan menjadi pemegang tahta sekolah, ras tertua, sebut dia kakak kelas dari kakak kakak kelas yang ada. Kelas ini jangan disiakan, biasanya dibagi secara acak, tentu tidak terlalu asing lagi karena sudah lama saling terlihat bahkan ada yang satu kelas dulunya.

Setiap tahunnya, siswa tersantai didunia biasanya duduk memilih bangku dekat jendela mengarah pada seisi sekolah dengan posisi strategis yaitu sudut ruang kelas, namun saranku jangan terlalu sudut, bisa-bisa jadi target sasaran guru untuk menjadi tikus percobaan. "Iya, yang disudut sana" itu contoh nadanya.

Memilih langkah awal seperti ini, tentunya memiliki efek samping, akan banyak siswi lewat silih berganti dengan wajah khasnya yang sangat sayang untuk dilewatkan, disudut lain terlihat sorak seru siswa sedang berolahraga (pelajaran favorit siswa tanpa catatan), sayup sayup candaan siswa dengan pelajaran kosongnya terdengar mengejek. Semua itu mengalahkan fokus terhadap materi yang entah kenapa mesti dipelajari (alibi haters fisika). Ditambah lagi kondisinya pagi hari, tepat dimana perutku sudah memanggil gorengan teman yang diselipkan dibawah bangku.

Duduk diam dengan tutup pena digigit, mengamati sekitarnya untuk bersiap menjahili mangsanya, terserah ada guru ataupun tidak, korban terdekat biasanya tetangga depan belakang. Mengajak yang lain tidak fokus adalah kesenangan tersendiri.

Disisi lain hal yang mendapat dukungan penuh ketika ketua kelas beranjak pergi kekantor guru untuk memastikan pelajaran kosong. Biasanya langsung suasana pecah dengan rerumpian ibu-ibu, cerita *tuttt para remaja tanggung membuat sebagian lengah atas pena andalannya. memang kelas akhir akhir ini menjadi polemik dengan kasus pencurian besar, hilangnya beberapa pena, bahkan ada yang diculik, dimutilasi, hanya diambil bagian dalamnya. Uhh kejam.

Sekarang sudah empat tahun kita tamat, ada yang kerja, ada yang menikah, ada juga yang kerja sambil menikah, ada banyak lagi. Ada banyak kisah yang sebagian besarnya teramati dari sudut bangku ini, sudah pas untuk dijadikan pembicara atas pelaku dari hilangnya pena diatas atau menjadi sutradara film pendek yang akan dirilis entah kapan?

Masih simpan photo kita? Untuk bukti bahwa dulu pernah sekelas, biasanya diantara kita sekarang sudah banyak perubahan, yang membuatnya tertawa adalah mengapa kita pernah melakukan hal konyol itu. Masih ada kisah itukan? Geng-Gengan...Marah marahan...Cinta-cintaan... Dan lain sebagainya. 

Bagaimana kalau kita sepakati saja, tanpa berjanji-janjian seperti dulu. Latar Belakang Reuni bagiku bentuk untuk menceritakan kisahnya secara langsung. Cerita yang setiap tahun diceritakan tanpa sedikitpun kehilangan keseruannya. Tentu akan banyak episode jika bersama. Kadang kita jarang bercerita ketika bertemu, namun aku tahu wajahmu sudah menceritakan baitnya. Aakh, menulis ini sama saja merindu sendirian. Oke, Kita akan bertemu diacara reunian Ramadhan tahun ini. Tanggal 03 Juni 2016 Jam 03:00 wib di Hotel Sempurna. Beberapa teman kita sudah mempersiapkannya dengan matang, tentu kita saling menunggu. 

Almada (Alumni SMA N 2 Lubuklinggau Angkatan2012)

Friday, 17 June 2016

Malam Nian

Kali ini kita bertaruh, malam yang habis atau aku. Bersama personil notebook kecil yang hampir patah dengan wifi menumpang, tentu strategi apik untuk menerobos malam. Tidak diragukan lagi, ternyata dugaan tentangga benar, malam juga lengkap dengan serdadu bintang yang siap menyerbu mata, mendorong tubuh dengan anginnya kemudian membuka sinar bulan yang terhalang awan, pelahan timbul membuat kekuatan malam semakin mendesak seolah memberi isyarat.

Menatapnya adalah konyol, serdadunya sudah cukup memaksa diri untuk hanyut dalam rayuannya. Malam kali ini memang kuat, berani sekali dia mendorong kebelakang, mensiasati pikiran lalu. Entah disebut apa malam itu, arusnya begitu deras, kurasa wajar jika hanyut dalam kenangan, dibawanya aku kedalam, entah terseret atau seperti apa, kenangan itu masuk diantara sel sel otak yang mencoba terhubung kembali untuk mengingatnya.

Coba saja sejak awal tidak ku tantang, mungkin kejadiaanya tidak seperti ini, menantang malam adalah lelucon besar, sebab mereka akan hadir lagi sampai akhirnya kau lelah sendiri. Hanya aku yang tahu malam itu, malam itu semakin menjadi-jadi tanpa memberi ampun. Begitu lah malam dengan  persekongkolannya.

Tentu saja malam ini bukan untuk mu. Biarkan ketidakjelasannya tanpa memberi arti. Sebab kenangan itu begitu liar sampai bingung menceritakan topiknya. Sedangkan aku tetap saja bersandiwara untuk membungkam kenangan itu, tanpa sedikitpun menceritakan apa yang sebernarnya terkenang.

Malam belum habis, begitu juga dengan kisah yang akan kujalani. Tidak akan kuberi kesempatan pada malam untuk mengenang kisah yang itu-itu saja, sebab kisah masih mempunyai sedikit waktu untuk diperbarui. Memang malam terkadang tidak adil, mengacak seenaknya setiap kisah. Memang malam terkadang kejam, selalu saja malam yang bersekongkol dengan kenangan.

Ini bukan soal gelap dan heningnya saja,bicara tentang angin bisa mengalahkan detang jam yang lewat begitu saja, dinginnya sudah masuk tulang belakang melewati rajutan jaket sederhana. Kubiarkan malam itu, kita harus sadar, sekali kali itu perlu, untuk melihat yang sudah jauh berlalu atau yang akan lalu, bukankah kita butuh mengobrol dengan dirisendiri, dengan apa yang dilakukan selama ini hanyalah euforia atau ...

Mungkin inilah adalah pesan untuk berpikir lebih lama dengan kenangan atau berpikir keras dengan kisah selanjutnya. Kali ini aku sepakat sebenarnya aku tidaklah begadang melainkan hanya memindahkan waktu tidur. Ahh kali ini aku kalah telak.

Malam itu dengan rembulannya.


Friday, 10 June 2016

Cintaku yang payah

Nem, leha, Sri, maafkan aku, cinta ini begitu payah untuk orang yang terlalu berharga seperti kamu. Cintaku tidak tahu bagaimana arah kemudinya, sehingga lepas dan sesat dari jalurnya.

Nem, Leha, Sri, baiknya jangan orang seperti ini, cintanya diam tak tercurah, mesra hanya angan, menjauh adalah pilihan yang tepat. Cinta yang berharga itu jangan sampai busuk hanya dengan mengenal kepayahan ini.

Nem, Leha, Sri, sehat sehat ya sekarang, Lanjut terus sampai semuanya berjalan tanpaku, tenagamu jangan dihabiskan hanya  untuk cinta yang payah.

Nem, Leha, Sri, kepingan kecil yang sempat terpahat biarkan disudut hatimu yang paling ujung, biarkan berdebu dan usang, namun sesekali jenguklah pahatan itu agar tak terlalu tebal debu menutupinya.

Nem, Leha, Sri, Jangan biarkan kisah baru yang datang melihat pahatan itu, jangan pula kau hapuskan semua untuk kisah yang baru, bukankah dulu kita juga berkisah. tapi itu terserah kamu.

Nem, Leha, Sri, Kabar yang sampai sekarang tak terceritakan, jangan disimpulkan bahwa aku tak pernah memikirkan senyum manismu, membayangkan keadaan seperti apa yang sebenarnya bukan dalam bayang dan angin.

Nem, Leha, Sri, Untuk kabar yang tak terbalas, aku sering kirim balasannya lewat hatimu, tak berbentuk memang, namun terisrat. Ketika resahmu datang, itu tanda masuknya. Pejamkan matamu dan rasakan setiap bait kalimatnya.
Nem, Leha, Sri, sungguh wajar ketika kamu bertingkah dan berbuat seperti itu padaku. Itu sudah pantas untuk cinta yang payah ini. Berkabar lewat angin, bercerita lewat diam, Melihat dari bayang, bukankah cinta tak sejadul itu.

Nem, Leha, Sri, aku juga sadar bahwa cintaku tak seasik yang lain, waktuku tak terbagi hanya untuk melihat senyummu, lihatlah aku yang seolah biasa dengan kondisi ini, seolah tak bersalah, seolah santai melewatinya,
Tapi, Nem, Leha, Sri, sekarang aku pecah dalam, remuk seribu namun didalam, tak nampak dari luar, begitu kias sekali. Cinta yang luar biasa aku buat sepayah ini.

Nem, Leha, Sri, sebenarnya kamu satu, bagaimana bisa cinta yang payah ini mencintai tiga nama, sedangkan satu nama saja sudah sepayah ini. 

Nem, Leha, Sri, sekali lagi, kalian itu satu nama yang bersedia dan bertahan selama itu hanya untuk mencintai cinta yang payah, Tapi sekarang sabarmu sudah cukup dan itu benar.

Nem, Leha, Sri, mungkin aku cocok bercinta bersama paranormal yang bisa menangkap pesan bayangku melalui angin, melalui malam, melalui sunyi, melalui resah yang tiba tiba rindu hadirmu.
Nem, Leha, Sri, kamu tidak perlu tahu tulisan ini.
Nem, Leha, Sri, Terimakasih.
Waktu itu di Enggano, "Di dalam bir ada kebebasan"-Benjamin Franklin 

Hampir sampai pinggang

Sekarang, gondrong ini telah masuk di fase kewajiban (baca : dikala gondrong tiba) nampaknya mulai menjadi tua. Dengan bentuk pecah pecah dan kemerahan di ujungnya, ternyata sejak awal aku benar, menjadi tua tidak mengenakkan, namun tetap muda terkadang hanya dipandang sebelah mata. Sekarang kalian mesti percaya kampus tak seasik waktu itu, waktu dimana kita masih sibuk kerja kelompok hingga sekarang kita sibuk dengan skripsi kita masing masing.

Tidak terasa tahun ini masuk tahun ke empat gondrong ini bertahan. Aku ingat sekali, celana sobek andalan dengan kaos oblong itu selalu menjadi duet andalan menemani kesana kemari memasuki ruang kuliah dengan tas sandang tanpa pena. Pulang lebih awal dengan motor butut berkarat, Astaga, kalau saja pacarku tahu, mungkin ia akan cemburu dengan suasana angin yang membelai, meniup helm tanpa kaca yang membiarkan rambut keluar di bagian belakangnya. Rasanya dengan poling sms sementara, bisa jadi aku adalah orang kedua paling ganteng sekampus raya ini.

"sampai saat ini berdasarkan catatan sejarah dunia perkampusanku, orang pertama belum ditemukan, kecuali Kamenraider dan Power Ranger begitu juga dengan Superman dan Badman ngotot untuk kuliah dikampusku, kemudian dengan gagah dan proses loby yang panjang, wakil rektor tiga bidang kemahasiswaan mendukung dan membuka sayembara dan disetujui oleh seluruh rakyat Indonesia, Merdeka".

Sekarang tahun keempat, namun belum genap empat tahun. Hampir sampai pinggang, membuatnya semakin asik, tidak perlu pengikat rambut, bisa kau sanggul seperti anak gadis didesa yang siap berangkat mandi kesungai. Digelap dan sepinya desa ia ikut, diterang dan ramainya kota ia tidak bisa ditinggal. Kemana saja selama bertahun-tahun menjadi pemikat hati.

kali ini fase yang sulit, tak banyak yang mampu bertahan, melaksanakan kewajiban adalah wajib hukumnya, kebiasaan selama 4 tahunan itu memang sulit untuk dilupakan, belum lagi banyak ide liar yang keluar dari gerahmu. Tapi bagaimanapun itu, terlepas gondrong atau tidak, kau tetaplah rambutku. Dibalik fenomena skripsi, kemudian fenomena kerja yang semuanya butuh rapi. Tentu perlu amunisi untuk tetap tenang, 99% kau akan pergi. datanglah fase itu, aku akan hadir dan mungkin kembali dengan jilid dua, sesuai dengan cita-citaku.

Menjadi dosen muda dengan tetap berambut gondrong adalah catatan kecil tertempel di dinding kosanku. Cita-cita yang hadir atas jerih payah petualangan panjang. Dan apabila gondrong ini akan kembali awal, maafkanlah itu,  ingatlah selalu ndrong, kita pernah menghabiskan waktu dengan ke-keren-an maksimal tanpa cela, bisa jadi nantinya dikala gondrong hilang, aku sangat yakin, pasti ada karakter yang hilang juga didalam diri, entah hilang atau sembunyi, kuharap sembunyi saja. selalu ada jilid dua untuk sensasi dan suasana itu, yang sedikit banyak membentuk pikiran pikiran yang jarang dipikirkan oleh generasi- generasi sama. Kini kau Hampir sampai pinggang, salut aku sama mu ndrog, ini prestasi untuk kita berdua, hanya untuk kita berdua. Bagaimanapun cerita selanjutnya kau tetap rambutku yang bernama gondrong. Bersambung

Hampir sampai pinggang, gondrongku

Saturday, 21 May 2016

Untuk Kawan, Kerja Nyata atau Pekerja Nyata ?

Apa kabar kawan, masih bagun kesiangan hari ini, hahahaha berarti kita sama, kali ini izinkan coretan payah berkisah sedikit. Kawan, terdengar kabar sebentar lagi kau akan melaksanakan tugas besar dari seorang Mahasiswa/i, benar begitu, tentu kau ingin waktu itu segera tiba. Kuliah Kerja nyata, kebetulan aku pernah melakukannya. Hanya kebetulan aku yang duluan.

Kawan, boleh aku bercerita sebagai orang yang kebetulan, bukan maksudnya sebagai tanda aku lebih tahu dari masa itu. Walaupun nantinya coretan payah ini terkesan sedikit mengurui, maafkanlah itu, anggap aku orang yang payah, semoga dari kepayahan ini menjadi berkah dan membuat kita untuk berusaha lebih hebat.

Kawan...
Kuliah kerja nyata (KKN) bagiku mata kuliah wajib terasik yang pernah ada di planet bumi. Ini adalah wujud nyata dari pengabdian seorang Mahasiswa untuk turun dan melihat langsung bagaimana kondisi sebenarnya kemudian melakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Ini juga merupakan cerminan dari kualitas seorang Mahasiswa/i selama mempelajari teori dibangku kuliahnya. Kuliah kerja nyata atau disingkat KKN, Kukerta atau apapun itu, bagiku adalah kerja nyata bukan pekerja nyata. Dua kata ini tersimpan makna  berbeda walaupun intinya sama bekerja.. 

Kawan...
Kerja nyata dan Pekerja nyata, silakan kau pilih, tapi aku jelaskan sedikit gambarannya. Kerja nyata adalah bentuk kerja bersama masyarakat, yang sebelumnya direncanakan bersama-sama, tujuannya untuk masyarakat itu sendiri, biasanya jauh dari istilah sumbangan dana karena memang dilakukan secara bersama dan memanfaatkan peluang yang ada. Kopi akan keluar dari ibu ibu, kayu akan dapat dari hutan desa, tenaga akan terkumpul untuk suatu karya bersama. Namun berbeda dengan pekerja nyata, biasanya melakukan sesuatu berdasarkan kepentingan diri sendiri, dilakukan oleh diri sendiri. Pekerja ini akan dekat dengan istilah sumbangan dana, tenaga hanya dari kalangan mahasiswa/i, layaknya pekerja profesional masyarakat dijadikan penonton dan siap bertepuk tangan ketika selesai, tanpa tahu apakah masyarakat membutuhkan itu. 

Kawan...
Tentu kalian nanti akan dikelompokan dari beberapa Mahasiswa/i dengan latar belakang dan jurusan yang berbeda, kemudian berada dalam satu atap kurang lebih satu bulan, berbicang, bercanda, bersedih, bahagia, pasti akan terjadi. Banyak macam sifat, baik dan buruk adalah kepastian, tentu bukanlah hal yang menyenangkan apabila rumah tangga tidak harmonis. 

Perlu disadari kawan, dari cerita kelompok inilah akan tercipta kisah yang sulit dilupakan, rukun-rukunlah, berpikirlah setiap orang memiliki potensi, memiliki anggota kelompok yang kuat begadang, main kartu dan perokok keras adalah anugerah tersendiri, karena orang seperti inilah yang akan menjadi garda terdepan menyambut tamu yang biasanya sampai larut malam, orang  ini akan mengerakkan pemuda/i desa lebih cepat, orang ini juga, lebih aktif menjamin keamanan kelompoknya. Itu adalah contoh potensi sederhana yang biasanya dianggap sepele

Kawan...
Tidak ada yang lebih unggul dalam kelompok kecil ini, itu akan indah dan terkenang sampai kapanpun apabila saling menghargai dan mampu melihat mengerti satu sama lain.

Kawan...
Tentu misimu besar, harapanmu membawa perubahan namun ketika biacara soal permasalahan, sering-seringlah untuk mengobrol dengan masyarakat, karena mereka sudah sejak awal, bahkan lebih lama mengetahui kondisi sebenarnya, bagaimana bisa orang baru dengan ide yang besar akan menyimpulkan permasalahan tanpa narasumber handal bernama masyarakat.

Kawan...
Ketika nanti kau sudah ditempatkan di daerah sana, lepaskanlah dulu ke-maha-an mu itu, jangan pakai bahasa intelektual mu itu, tidak banyak yang mengerti itu, serba mewahmu itu, karena disini begitu sederhana, tidak serumit dengan fasilitas yang biasa kita pakai. 

Kawan...
Jangan lupa, Selain program kerja yang selalu kau banga-bangakan itu, yang selalu kau unggulkan itu, disisi lain masyarakat hanya ingin hadirmu yang pecah dan lebur, ikut bermain voli di sore hari, ikut berkebun, melaut dll. Bagaimana bisa tangan mulusmu tidak dipecahkan hanya untuk sebulan lebih saja, biar tahu rasanya jadi rakyat biasa, hingga kau duduk di jabatan nanti ingat dengan tangan-tangan yang pecah untuk mencari nafkah. Berbaurlah dan jadi bagian dari mereka bukan sebagai tamu jauh yang begitu kaku.

Kawan...
Tentu kita adalah seorang mahasiswa/i yang belum mampu mencari uang, berundinlah dengan masyarakat untuk tempat tinggal layak dan tidak terpakai tanpa untuk menyewa, usahakanlah dulu, walaupun sulit. Hilangkanlah kebiasaan sumbangan dana hanya untuk menjadi tukang cat atau membuat plakat nama, kegiatan klasik ini melekat sekali, bukankah tidak harus kau datang untuk melakukan itu, atau hanya itu yang dapat dilakukan. 

Kawan...
Setelah semuanya selesai, sempatkan waktu untuk berkunjung lagi, melihat kembali sejauh mana yang kita lakukan dulu. Atau selama itu waktumu habis hanya untuk cinta-cintaan. 

Sekali lagi Kawan, sebagai kalimat penutup dan sekaligus pertanyaan untuk tujuan keberangakatan mu nanti. Kau mau melakukan apa yang kau mau atau apa yang masyarakat mau ? Kemudian kau mau kerja nyata atau pekerja nyata ? 

Sekian.
Salam dari kelompok KKN UNIB Periode 76 Kecamatan Enggano, Desa Meok 2015.
 
Salam dari kelompok KKN UNIB Periode 76 Kecamatan Enggano, Desa Meok 2015

Friday, 20 May 2016

The Day of National Resurgence

Today is May 20 known as the Day of National resurgence. We commemorate the Day of National resurgence by making ceremony. According to me ceremony is not important. The most important thing is to implement moral instruction of the Day of National resurgence.
The things that can be taken as moral instruction when we commemorate the Day of National resurgence are :
1. It is the best moment to free ourselves form stupidity, poverty and backwarness.
What is meant by National resurgence in accordance with this moment we are forced to step forward for getting achievment and progress.

2. The Day of National resurgence should be used as moment to free ourselves from all kinds of colonialsm. There are still many people in our country who are oppressed, They often get violence. It indicates that our people expecially women are still trapped in colonialsm.

3. The Day of National resurgence should be used to developer harmony, solidarity,  unity and integrity. Nowadays the world is facing proxy war, it is war against Civilization. The war is intended to deprave indonesian generation. 

I need to write about this topic because today is the Day of National resurgence for all indonesians. Lets keep our spirit and motivation to step forward for the glory of our beloved country. INDONESIA.

The Day Of National Resurgence


Friday, 13 May 2016

Alasan Pecinta Alam

Tariklah nafas dari udara bersih itu.
Kemudian biarkan sepatu tua keluar dari rak-nya.
Kain segi tiga itu biarkan ada.
Rutinitas akan kalah, kalahlah dengan jiwa.
Nyaman akan jauh, dipecahkan dan terpelanting.
Tentu ada kisah, dari perjalanan jauh melelahkan.

Masukilah wilayah yang jarang dimasuki.
Telusurilah wilayah yang jarang ditelusuri. 

Untuk hidup sehat, lengkap dengan matahari pagi dan embunnya.
Untuk irama jangkrik, seirama dengan purnama terang.
Atau hanya sekedar menemukan teknik siul baru, dari burung penghuni hutan.
Bahkan, Untuk sekedar mandi di tingginya air yang jatuh menutupi tebing.
Untuk sekedar canda dari lingkaran sederhana masyarakat desa.
Yang jelas, Untuk segala pesonanya.

Biasanya keindahan itu sampai keatas sekali, sampai kagum dengan penciptanya.
Biasanya banyak siul pertanda habitat yang hilang. 
Sangat pasti, bisik itu akan terdengar dari tanah yang dijajah perusahaan.
Bahkan banyak jurang terjal begitu nampak, bagaimana bisa hidup tidak seadil itu.
Rasakan bagaimana seharusnya memerankan diri, dari kesederhanaan yang ada.

Semua itu terlihat, terdengar dan dirasakan..
Sebab memang kita berada disitu, entah bagaimana panca indra merekamnya.
Biarkan saja terbentuk sendiri, mengalir dari setiap petualangan panjang.
kemudian seharusnya nurani terpanggil.

Dibalik perenungan diri, menyepi dalam nuasa alam.
Pasti alasan itu akan tegar.
tentang kenapa ada disini.
tentang kenapa sejauh ini.

Untuk seluruh alasan, itulah kenapa aku seorang "Pecinta Alam " (M-14141.KP)


Bersama pahlawan desa dari penjajah tanah, MERDESA !





luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com