Dikala Gondrong Tiba

Gondrong adalah sebutan untuk seorang laki-laki berambut panjang, Itulah kenapa cewek tidak disebut Gondrong, karena mereka bukan laki laki dan laki laki bukan mereka, tapi mereka dan laki laki ditakdirkan untuk menyatu sehingga mampu menciptakan Gondrong junior, Coretan Payah edisi "Dikala Gondrong Tiba", akan mengulas sepenggal cerita dari sepanggul kisah yang terjadi selama Gondrong itu tiba.

Alasan Pecinta Alam ?

Tariklah nafas dari udara bersih itu. Kemudian biarkan sepatu tua keluar dari rak-nya. Kain segi tiga itu biarkan ada. Rutinitas akan kalah, kalahlah dengan jiwa. Nyaman akan jauh, dipecahkan dan terpelanting. Tentu ada kisah, dari perjalanan jauh melelahkan.

#SaveCawang | Sudah Dengar Tangisan Cawang hari ini ?

Payah, tangisan Cawang tak terdengar, jelas tangisan itu rintih. betul aku adalah orang yang payah, bagaimana tidak, seorang mahasisw...

Siul fales mengiringi pagi yang hampir saja terlewatkan, hari ini hampir saja habis di zona nyaman, dikasur yang tak terjemur entah berapa bulan. Kopi panas kuperintahkan untuk dibuat padahal hanya ada aku dan kucing waktu itu, astaga, kucing itu belum terlatih untuk segelas kopi, segelas kopi yang di dedikasikan untuk modal berpikir dan berandai-andai.

Wednesday, 8 February 2017

Terlalu Mimpi

Aku menulis ini diatas kereta, menjemput mimpi menuju Kediri. Dari Bengkulu tempat dimana aku kuliah selama 4 tahun 4 bulan, sudah kuputuskan memang. Tentang segala mimpi yang tumbuh dari benih semangat untuk menjadi bagian dari dunia. Ku seka peluh keringat, kuhantarkan badan menuju Kediri. Mencari modal untuk bertaruh terhadap semua mimpi yang kurang ajar ini. 

Memilih kuliah cepat, bukan tanpa alasan. Untuk setiap waktu yang emas ini, amat sangat rugi jika dihabiskan disatu tempat saja. Kita butuh hijrah. Aku selalu yakin bahwa tidak ada orang besar yang tidak melakukan perjalan panjang.

13 jam perjalanan bukanlah waktu yang singkat, melihat-lihat pemandangan sawah dari balik kaca jendala yang terkena tipis air hujan cukup untuk menghibur diri. Melalui kereta dari stasiun pasar Senen Jakarta, aku sampai di Kediri dengan ditemani papa muda yang menanti kelahiran anak ketiganya dan seorang ibu dengan anak kecilnya. Ketiga orang ini menjadi teman seperjalanan terutama anak kecil bernama Rafa yang tidak pernah tidur itu.

Mimpi ini kutemukan dari cerita orang- orang hebat. Ya, semua nya karena buku. Ditambah lagi dari segala aktivitas selama kuliah yang sering melihat langsung kesenjangan, ketidakadilan dan semuanya terlihat jelas  bukan dari puncak gunung-gunung melainkan desa-desa terpencil. Perjalanan jauh yang begitu melelahkan.
Mimpi itu menjadi besar dan meluap, menggetarkan wajan yang kepanasan karena air di dalamnya sudah merasa waktunya tiba. Menggelinding bak bola salju dari atas tebing dan aku tetap dibawahnya.

Untuk semua mimpi yang gila ini, sudah tentu perlu usaha yang gila pula. Sekuat tenaga, setegar keyakinan diri.

Aku sedikit pun tidak akan pernah takut.
Sedikit pun tidak. Karena dibalik mimpi ini aku bersama doa dan harapan disekelilingku.

"Akanku tantang dunia" dengan mata buta aku mengucapkannya latah. Menyiapkan diri lahir dan batin, memperbaiki segala hal yang amat sangat berantakan ini.

Menjadi manusia besar dengan kebesaran-Nya. Akulah Ayub Saputra dan pantaskah aku? Terlalu bertanya adalah cara menghentikan semuanya, lantas ku leburkan saja semua pertanyaan yang kalimat awalnya "bagaimana" bagaimana ini, bagaimana itu. Kubiarkan dia hilang bersama kabut di tebing gunung Merapi.

Terlalu mimpi.
Pilihan yang tidak dipilih banyak orang.
Aku tidak mau pulang tanpa membawa hasil. Namun sejauh apapun itu, jelas saja aku akan kembali di titik nol. Titik dimana aku melihat senyum dari setiap orang yang berdoa tanpa henti itu.

Ya, dunia ini luas sekali kawan.
Ya, aku tahu mimpi ini sungguh terlalu.

Dibawah langit dan matahari yang sama.
Lahirku mengenalkan diri.
Batinku mengenalkan Allah.
Luput lepas aku dipintu lawang yang sempit.
Bujur lalu melintang kupatahkan.

Habis semua, tidak ada yang bisa menghalangi semangat ini, semangat yang dicetuskan hati dan diri. Kuhabiskan bersama titik di akhir kalimat ini. (titik)



                                           04 Februari 2017, Kampung Inggris (pare) sampai dengan selesai.

Terlalu mimpi memang, tapi sunguh amat sangat terlalu kalau mimpi tidak terlalu. Itu baru mimpi

Friday, 9 December 2016

Bangunan Petak Dua Pintu

Suara dengkur teman yang tidur duluan memberi kode lelap malam hanya untuknya. sebagian orang duduk saling hadap sedang menghentakan batu gaplek "pletak" riuh saling ejek sembari menghentak meja dan mengeraskan suaranya. sebagiannya lagi sibuk dengan dunia maya nya, termasuk aku dengan kesempatan ini, mencoba berfantasi dengan keadaan.

Malam waktu itu, gerimis menuju deras. Di jalan koral, beberapa motor dibiarkan kehujanan. Gelas bekas kopi isyarat malam untuk dinikmati lebih lama. Suasana malam memang harus ramai, jangan sampai kalah dari konser jangkrik diluar sana. 

Siang tadi kami berbicara dunia, membahas mengenai kondisi alam raya lengkap dengan kejahatan manusianya. Semangat untuk datang walaupun telat melatarbelakangi pentingnya pertemuan itu, memposisikan diri agar dapat berbicara kebenaran. Orang-orang disini begitu fleksibel, mampu lebih serius disaat suasana serius bahkan disaat tidak serius banyak kiasan tentang persoalan dunia, mengenal tuhan, bersikap bijak tentang agama, cinta dan Indonesia. Siang, sore dan malam, yang jelas pagi sering terlewatkan. 

Bicara tentang malam tentu makin malam makin liar dan tidak terbendung lagi. Beberapa orang mulai menyerah dan memilih tidur padahal obrolan sedang berada pada puncaknya. Bangunan petak terpelosok ini merupakan bagian ujung dari gang tiga, merupakan tempat canda tawa dan keliaran manusia yang siap menjawab tantangan dunia. Orang-orang asik, tidak kaku dalam bersikap berkumpul dengan keyakinan teguh, teruji dan bermental baja. Apa jadinya bagunan yang berada di ujung ini tanpa ada keriuhan khas dengan backsound jangkriknya, mungkin rumput liar sudah jadi setinggi rumah, lusuh dan jadi sarang jin.

Ada malam, ada episodenya, banggaku meluber dengan ketidak-sia-sia-an bagunan petak dua pintu ini berguna dan memiliki nilai lebih dibanding tegap gedung-gedung besar, disini kami ada dan berpikir. Jikalau bangunan dua pintu ini bisa bersaksi, mungkin akan sedikit cerewet karena banyak cerita dari ide dan gagaasan baru itu untuk dijelaskan. Nilai yang seperti itu yang mengalahkan bangunan mewah di sebelahnya.

Banyak tempat-tempat duduk baru hadir, sebagai media ngobrol santai disore harinya, saling menyapa dan bertanya yang seharusnya tidak ditanyakan. kalau kau tidak percaya, silakan tanyakan pada pohon peneduh diperkarangan itu.

Bangunan ini harusnya bangga dan memang harus begitu, banyak tamu dari penjuru negeri tidur dan tumpah di dalamnya, banyak anak dengan minat belajarnya mengerti dari sini. Bagunan petak dua pintu ini punya daya tarik, tempat terdamai di jagad raya saat ini. Bangunan ini nantinya akan jadi sejarah dan napak tilas orang orang yang jauh nanti, bagunan ini unik sekali, dia kecil, jauh dan terpelosok namun ramai, riuh dan tempat bagi orang-orang dengan ide dan gagasan besar.

Bagunan petak dua pintu ini sejarah bagiku di bagian bumi ini, 
Bagunan petak dua pintu ini sejarah masa mahasiswaku lengkap dengan seluruh persoalanya. Bagunan petak dua pintu ini sejarahku dengan orang-orang hebat disekelilingku.
Bagunan petak dua pintu ini sumbu dari  pemikiran liar itu.
Bagunan petak dua pintu ini mengajarkanku, bahwa aku harus jadi manusia.
Aku bangga dengan "Bagunan petak dua pintu ini" 



Sunday, 4 December 2016

Manusia Terdidik Lari

Manusia manusia merdeka dengan pendidikannya tenggelam dalam pragmatisme pendidikan. Pendidikan kapitalisme  sudah jadi ideologi sistem pendidikan Internasional. Basis sistem tersebut telah masuk dalam pembuluh darah pendidikan. Manusia manusia yang harusnya memanusiakan manusia manusia tertindas sedari dulu putar kemudi dalam rangka orientasi kerja mendukung kapitalis merajalela. 

Media tranformasi nilai nilai pendidikan pecah antah berantah kehilangan ruhnya. Malapetaka besar sudah datang dari dulu dan sekarang sedang dikembang biakkan, mengakar dan menghancurkan nilai kemanusiaan.

Sekarang memang tak nampak beda antara lembaga pendidikan bahkan perguruan tinggi dengan yang namanya pasar kalangan. Keduanya jual beli orientasi uang dengan keuntungannya. Bedanya hanya penjual dan jualannya, pasar kalangan dengan sembako rumah tangganya dan lembaga pendidikan dengan jasa pendidikannya. Sks, fasilitas dan cara mengajar sudah jadi lapak uang para kapitalis Borjuis berselimut pendidikan. 


Nilai guna dari pendidikan sudah hancur lebur. Pendidikan tidak untuk menengah kebawah. Pendidikan hanya untuk selembar kertas bertuliskan ijazah dengan biaya yang makin parah. 

Unsur pendidikan hanya sebatas subyek, sebatas sejauh mana menjadi alat untuk menyelamatkan pribadi. Jauh dari apa yang dikatakan Paulo Freire dengan pendidikan harus melibatkan 3 unsur, menempatkan realitas dunia sebagai obyek yang disadari kenapa manusia tersebut harus melakukan pendidikan. Realitas Dunia yang menjadi salah satu unsur pendidikan itu selain mengajar dan diajar hanya akan menjadi racun bagi sistem kapitalis, karena dari situ akan menumbuhkan manusia manusia terdidik yang merdeka, manusia-manusia terdidik yang memanusiakan manusia lain.

Sekarang jadilah manusia ini, manusia Terdidik dengan pendidikan setinggi langit tanpa pernah memerdekan manusia yang butuh merdeka. Manusia terdidik itu sekarang jadi dengan segala hapalan teori dan konsep. Manusia terdidik itu hilang dalam proses pembebasan, menjadikan dirinya penindas dan hanya menghasilkan penindas kecil, begitu seterusnya. Manusia terdidik itu telah lahir dengan idelogi kapitalis borjuis lengkap dengan status sosialnya. Manusia terdidik itu hilang lenyap entah kemana dalam ranah hubungan sesama manusia lainnya, yang mana mereka butuh pemantik dari mereka yang terdidik agar sumbu ketidakadilan dan penindasan meledak hancur berkeping-keping.
Manusia terdidik itu lari !

Prima Causa, jangan biarkan aku lari.

Saturday, 5 November 2016

Generasi Sama

Semangat belum datang padahal matahari sudah diubun kepala. Menunggu semangat hadir padahal sedikitpun semangat tidak berucap janji. Kamu pikir semangat akan berbela sungkawa, hadir begitu saja sedangkan kehidupanmu 80 persennya tidur dan sisanya bermain handphone. Dari sekian banyak kesempatan waktu, hidup sudah kebanyakan tidur. Tidur sudah tidak lagi menjadi rehat, tidur sudah jadi mematikan diri.

Pagi sudah jadi sapaan mahluk asing, sekali bernyawa sudah tengah hari. Kemudian dengan gagah obrolan malam menantang dunia. Asap ngepul rokok batangan Generasi generasi sama sudah terendus dari radius yang jauh. Generasi-generasi sama itu adalah Generasi generasi mata busuk melompong isi kepala, nyaring lubang sampah (mulut).

Matanya dipakai untuk dimatikan, mata mata dalam diri sudah tidak mampu lagi menyelidik melihat ketidakadilan, melihat kesalahan sudah jadi kewajaran. Generasi generasi sama yaitu generasi generasi sapi perah, berjalan tanpa ada keperluan, hura-hura gemerlap malam, ikut membuntut manusia buta.

Generasi-generasi sama tanpa adanya sikap, menelan mentah bulat bulat, buah isi belatung, berserabut penuh duri. Generasi-generasi sama yatu generasi tanpa ide "gila".

Generasi-generasi sama yaitu generasi tanpa adanya hal baru. 
Generasi-generasi yang menunggu. 
Generasi-generasi takut ambil alih.
Generasi-generasi tanpa inovasi 
Generasi-generasi risih jadi beda.
Generasi-generasi takut tanggung jawab.
Generasi-generasi haus kemewahan. 
Generasi-generasi hidup rutinitas.


Meja juang jembatan coretan payah
Generasi itu harus mati, semati-matinya. Generasi itu merasuk lewat darah menjadi virus otak dan hati menawarkan segala sensasinya.
Banyak dari generasi-generasi sama itu membalut status Maha,,, Mahasiswa.
Generasi itu bisa hancur untuk manusia-manusia yang berpikir.

Friday, 4 November 2016

Hujan Desember

03 November 2016.
Untuk malam. 
Untuk waktu sedikit penuh tantangan
.

Jangan lagi permasalahkan, waktu memang begitu dan yakinlah Desember ini akan hujan entah gerimis atau badai. Sesuatu yang belum didapat memang mengiurkan, setelah dapat baru tahu apa di dalam cangkang.

Tahu akan tantangan selanjutnya lebih parah.
Tahu akan sebenarnya seperti apa.
Tahu bahwa memilih untuk hidup adalah berjuang.

Dunia ini luas begitu juga dengan lembarannya.
Dunia ini menunggu.
Menunggu untuk orang yang sungguh-sungguh.

Tahap lain akan selalu ada. Orang- orang baru harus ada dan pilihan bertahan di tahap ini bukan solusinya. Cukup adalah kata yang liar. Kadang begitu menjebak, padahal belajar sampai kenegeri China itu dalam maknanya. Dunia ini semakin cepat, semakin singkat. Bukan hanya mengejar soal duniawi saja. Mental dan pemikiran yang maju sudah seharusnya dikejar dan Ini saatnya coba jadi yang ambil alih.


Orang-orang tua itu memang payah, berat sebelah. Tapi aku yakin mereka itu orang-orang pintar, lantas kenapa begitu ? Apakah posisi itu mempengaruhi pemikiran mudanya dulu. Atau memang pemikiran muda dulu habis dimakan waktu, redup dimakan sistem.

Penasaran sekali bagai remaja tanggung atas persoalan siapa yang membuat garis dan batas negeri ini. Siapa yang mengatur segala macam aturan ini. Kemudian dengan angkuhnya telunjuk panah, ini punyaku, itu punyamu.
Siapa yang menentukan suku, ras, bangsa dan agama. Siapa pula yang jadikan perang dan pertumpahan darah atas Batas dan garis yang membatas-batasi itu.

Mata Mengerling berangan jauh sejagad
Siapa ??


Ternyata kata jauh memang mengiurkan dan sekarang angan sudah berada terlalu jauh melalaikan tahap didepan mata. Tapi ada yang terpenting dan sulit ditunda-tunda lagi. Semangat yang telah tertanam di bulan Desember lalu berbuah di Desember ini.

Tunggu aku atau lewatlah tanpa permisi..
Desember ini akan hujan. Aamiin.


Friday, 9 September 2016

Carilah

Jika kau mencari aku.
Cari lah diantara pedih batu larah.

Jika kau mencari aku.
Carilah diantara sepi bekas lobang.

Jika kau mencari aku.
Carilah diantara kayu termakan waktu.

Jika kau mencari aku.
Carilah diantara patah angin lalu.

Jika kau mencari aku.
Carilah diantara senyum malang tumbang.

Jika kau mencari aku.
Carilah diantara lorong lampu remang.

Jika kau mencari aku.
Carilah diantara senyum topeng amarah.

Jika kau mencari aku.
Carilah diantara hidung belang mata menggerling.

Jika kau mencari aku.
Carilah diantara keluarga yang hidup simalakama.

Jika kau mencari aku.
Carilah diantara pandangan luput sinar terik.

Jika kau tak mengenal aku.
Akulah perindu yang tidak tahu bagaimana.

Jika kau tak mengenal aku.
Akulah jiwa iri dari hidup adanya.

Jika kau tak mengenal aku.
Akulah kupu kupu malam dengan sanksi pedih umat manusia.

Jika kau jadi aku dan aku jadi kau.
Mungkin tidak secari ini.

Sunday, 21 August 2016

Daokan aku jadi Supermen

Berambut klimis dengan sedikit ikal, berbadan kekar dengan segi delapan, beralis tebal tanpa pewarna buatan. Terbang kesana kemari layaknya burung. Aku bisa urus semuanya, mulai dari mencuci piring sampai piring dicuci, mulai dari makan nasi sampai nasi dimakan. Akulah Superman. 

Tidak ada yang berani menculikku, suaraku bebas menembus awan. Ketika ada kesalahan aku benarkan, ketika ada ketidakadilan aku adilkan. Ternyata akulah manusia super dengan segala kekuatan dahsyatnya.

Hidupku jadi idola dengan banyak penggemar di sekeliling badan. Klakson motor dan mobil berbunyi siiring papasan ku. Sambutan tangan begitu banyak menyita waktu untuk dibalas. Prestasi di lemari sampai tidak muat lagi, buku buku meluber dari tempatnya. Akulah Supermen dengan segala kesempurnaannya.

Senyum yang dibalas jadi cinta, sapa yang terabaikan jadi penasaran. Superman oh Superman. Super sekali engkau dikehidupan ini. Sayangnya aku bingung dikehidupan mana itu ?

Mimpiku terlalu tinggi, harapku terlampau jauh, tapi doamu tetap kutunggu. Lupakan soal Superman tadi, itu hanya lelucon ku. Apapun doamu, pasti itu terbaik. Sekarang aku damai, soal bagaimana tidak kupikirkan lagi. Yang jelas, jadi tetaplah jadi.

Boleh aku berbisik pada Tuhan tentang kita dan jalannya ? Bisik itu, hanya aku yang tahu. Kalaupun kau tahu, pasti Tuhan sedang memberi isyaratnya. Ngomong ngomong soal Superman, sepertinya sudah seharusnya membebaskan diri dari belenggu apapun dengan semangat dan kekuatan seperti jadi "Superman".
"Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa roh"-Khalil Gibran


Cermin ruang tengah
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com